top of page

MERAYAKAN KARYA TUHAN



 

Ester 9 : 20-25


20 Maka Mordekhai menuliskan peristiwa itu, lalu mengirimkan surat-surat kepada semua orang Yahudi di seluruh daerah raja Ahasyweros, baik yang dekat baik yang jauh, 21 untuk mewajibkan mereka, supaya tiap-tiap tahun merayakan hari yang keempat belas dan yang kelima belas bulan Adar, 22 karena pada hari-hari itulah orang Yahudi mendapat keamanan terhadap musuhnya dan dalam bulan itulah dukacita mereka berubah menjadi sukacita dan hari perkabungan menjadi hari gembira, dan supaya menjadikan hari-hari itu hari perjamuan dan sukacita dan hari untuk antar-mengantar makanan dan untuk bersedekah kepada orang-orang miskin. 23 Maka orang Yahudi menerima sebagai ketetapan apa yang sudah dimulai mereka melakukannya dan apa yang ditulis Mordekhai kepada mereka. 24 Sesungguhnya Haman bin Hamedata, orang Agag, seteru semua orang Yahudi itu, telah merancangkan hendak membinasakan orang Yahudi dan dia pun telah membuang pur – yakni undi – untuk menghancurkan dan membinasakan mereka, 25 akan tetapi ketika hal itu disampaikan ke hadapan raja, maka dititahkannyalah dengan surat, supaya rancangan jahat yang dibuat Haman terhadap orang Yahudi itu dibalikkan ke atas kepalanya. Maka Haman beserta anak-anaknya disulakan pada tiang.



Alkitab Terjemahan Baru © Indonesian Bible Society – Lembaga Alkitab Indonesia 1974, 2018.

 


Kebanyakan orang memilih untuk melupakan peristiwa traumatis. Ester dan Mordekhai bertindak sebaliknya. Mereka merayakan hari raya Purim sebagai peringatan akan peristiwa traumatis yang sudah dilewati. Perayaan Purim penting untuk mengingatkan orang Yahudi bahwa hidup mereka pernah ‘diundi untuk dibinasakan’ sehingga kalau bukan Tuhan yang membalikkan keadaan, tidak ada satu pun dari mereka yang selamat.


Kita mungkin pernah mengalami hal traumatis, seperti; dirundung, kehilangan orang yang kita kasihi, mendapatkan musibah, diancam atau disakiti. Belajar dari Ester dan Mordekhai, mari mengubah ratap duka menjadi sorak sukacita dengan mengulang kisah pertolongan Tuhan dalam peristiwa traumatis itu. Dengan mengisahkan karya Tuhan, kita akan menjadi lebih kuat untuk menerima dan berdamai dengan hal traumatik itu. Kita mengenang peristiwa itu bukan sebagai yang mendukakan tetapi yang menguatkan iman dan membentuk kita menjadi pribadi yang lebih baik.


Sobat Teruna, pada Hari Minggu Pemuliaan Yesus Kristus, kain mimbar yang dipakai adalah berwarna putih bersimbolkan mahkota berwarna kuning mas dan salib kuning gading. Simbol ini menggantikan gambar kayu salib dan mahkota duri di kain mimbar berwarna hitam pada perayaan jumat Agung. Kemuliaan-Nya diperoleh karena ketekunan menanggung derita. Jadi bukan tanpa maksud kita mengalami penderitaan. Allah dapat memakainya untuk membentuk kehidupan kita. Pun kita bisa diperkaya oleh pengalaman oma dan opa yang hari ini merayakan Hari Lanjut Usia Nasional. Dengarlah cerita mereka tentang karya Tuhan yang membalikkan keadaan atau karya Tuhan yang menggantikan mahkota duri dengan mahkota kemuliaan. Sabda-Nya berkata “Barang siapa yang percaya kepada-Nya dan setia sampai mati, ia-pun akan mendapatkan mahkota kehidupan.” (bnd. Flp. 2:9,11; Why. 2:10). (ES)


 


Berdoalah agar firman Tuhan hari ini bisa berakar, tumbuh dan berbuah dalam kehidupan Sobat Teruna:


Kristus Tuhan, jadikan aku pribadi yang selalu menceritakan dan merayakan karya-Mu dalam setiap pikir, kata dan perbuatanku.

Comments


bottom of page