SAMPAIKAN KEBENARAN SECARA PANTAS



Kisah Para Rasul 17 : 16-21

16 Sementara Paulus menantikan mereka di Atena, sangat sedih hatinya karena ia melihat, bahwa kota itu penuh dengan patung-patung berhala. 17 Karena itu di rumah ibadat ia bertukar pikiran dengan orang-orang Yahudi dan orang-orang yang takut akan Allah, dan di pasar setiap hari dengan orang-orang yang dijumpainya di situ. 18 Dan juga beberapa ahli pikir dari golongan Epikuros dan Stoa bersoal jawab dengan dia dan ada yang berkata: ”Apakah yang hendak dikatakan si peleter ini?” Tetapi yang lain berkata: ”Rupa-rupanya ia adalah pemberita ajaran dewa-dewa asing.” Sebab ia memberitakan Injil tentang Yesus dan tentang kebangkitan-Nya. 19 Lalu mereka membawanya menghadap sidang Areopagus dan mengatakan: ”Bolehkah kami tahu ajaran baru mana yang kauajarkan ini? 20 Sebab engkau memperdengarkan kepada kami perkara-perkara yang aneh. Karena itu kami ingin tahu, apakah artinya semua itu.” 21 Adapun orang-orang Atena dan orang-orang asing yang tinggal di situ tidak mempunyai waktu untuk sesuatu selain untuk mengatakan atau mendengar segala sesuatu yang baru.


Alkitab Terjemahan Baru © Indonesian Bible Society – Lembaga Alkitab Indonesia 1974, 2018.


Tiba-tiba kelas Yakob geger karena Tinus dan Obed berkelahi. Untungnya, Yakob sigap memanggil Guru, sehingga pertengkaran bisa segera dilerai. Usut punya usut, pertengkaran itu disebabkan oleh teguran Tinus kepada Obed agar tidak melompat-lompat di atas meja. Obed sebetulnya tahu yang dilakukannya itu keliru, tetapi karena Tinus menegur disertai makian, maka diapun menjadi marah. Oleh Guru, Tinus dan Obed lalu didamaikan.


Sobat Teruna, bacaan Alkitab hari ini mengisahkan bagaimana Rasul Paulus tiba di Athena setelah meninggalkan Berea karena dikejar-kejar kaum Yahudi Tesalonika yang menolak pemberitaan Injil tentang Yesus Kristus. Di Athena, Rasul Paulus sangat sedih melihat kota itu penuh dengan patung-patung berhala. Terhadap hal itu, Rasul Paulus berupaya menyampaikan kebenaran firman Allah. Yang menarik, cara Rasul Paulus menyampaikan kebenaran firman Allah bukan dengan sikap menghakimi atau bertindak keras. Sebaliknya, Rasul Paulus menyampaikan kebenaran firman Allah itu secara tepat. Ia berdialog dengan para ahli pikir golongan Epikuros dan golongan Stoa yang ada di Athena. Melalui dialog, Rasul Paulus menyampaikan kebenaran dengan sikap menghormati dan menghargai orang lain.


Sobat Teruna, sebagai anak-anak Allah, kita pun dipanggil untuk berani menyatakan apa yang benar. Namun janganlah menyampaikan kebenaran dengan cara yang keliru, yakni menghakimi atau bahkan memaki. Pesan yang baik dan benar itu menjadi ‘kabur’ maknanya oleh karena perkataan maupun perbuatan kita yang kasar. Melalui teladan Rasul Paulus, kita diajak untuk dapat menyampaikan apa yang benar itu dengan cara yang pantas dan menghargai orang lain. Dengan demikian, pesan kebenaran dapat tersampaikan secara baik dan orang lain dapat menerimanya tanpa merasa tersinggung ataupun tersakiti. (SLSH)


Berdoalah agar firman Tuhan hari ini bisa berakar, tumbuh dan berbuah dalam kehidupan Sobat Teruna :

Tuhan Yesus, tolong aku, agar dapat menyampaikan kebenaran yang Engkau ajarkan dengan cara yang pantas dan menghormati orang lain.