SERUAN KESADARAN


Yesaya 59 : 9-15


9 Sebab itu keadilan tetap jauh dari pada kami

dan kebenaran tidak sampai kepada kami.

Kami menanti-nantikan terang, tetapi hanya kegelapan belaka,

menanti-nantikan cahaya, tetapi kami berjalan dalam kekelaman.

10 Kami meraba-raba dinding seperti orang buta,

dan meraba-raba seolah-olah tidak punya mata;

kami tersandung di waktu tengah hari seperti di waktu senja,

duduk di tempat gelap seperti orang mati.

11 Kami sekalian meraung seperti beruang;

suara kami redup seperti suara burung merpati;

kami menanti-nantikan keadilan, tetapi tidak ada,

menanti-nantikan keselamatan, tetapi tetap jauh dari kami.

12 Sungguh, dosa pemberontakan kami banyak di hadapan-Mu

dan dosa kami bersaksi melawan kami;

sungguh, kami menyadari pemberontakan kami

dan kami mengenal kejahatan kami:

13 kami telah memberontak dan mungkir terhadap Tuhan,

dan berbalik dari mengikuti Allah kami,

kami merancangkan pemerasan dan penyelewengan,

mengandung dusta dalam hati dan melahirkannya dalam kata-kata.

14 Hukum telah terdesak ke belakang,

dan keadilan berdiri jauh-jauh,

sebab kebenaran tersandung di tempat umum

dan ketulusan ditolak orang.

15 Dengan demikian kebenaran telah hilang,

dan siapa yang menjauhi kejahatan, ia menjadi korban rampasan.



Alkitab Terjemahan Baru © 1974, Indonesian Bible Society – Lembaga Alkitab Indonesia


Siapa yang tidak pernah mengeluh? Mungkin Sobat Teruna pernah mengeluhkan kesulitan pelajaran, capek karena tugas yang banyak apalagi di masa pandemi ini. Apa yang hari ini menjadi keluhan sobat Teruna?


Keluhan juga dilakukan oleh umat Tuhan, Israel, ketika mereka kembali ke Yerusalem setelah bebas dari penghukuman di tanah pembuangan. Mereka harus kembali membangun kehidupan yang berkenan di hadapan Tuhan. Hal itu ternyata tidak mudah. Masih banyak orang yang suka berbuat dosa, memberontak kepada Tuhan serta merancangkan kejahatan. Karena itulah ketika mereka mencari keadilan, tidak mendapatkan. Ketika mereka menantikan “terang”, namun tidak kunjung datang. Umat Tuhan sadar bahwa mereka masih seperti “orang buta.” Mereka juga sadar bahwa beban kehidupan umat saat ini adalah karena dosa atau kejahatan yang dilakukan sendiri. Mereka berseru tentang ketidakadilan, namun justru melakukannya kepada yang lemah. Mereka berseru tentang damai, tetapi menghilangkan damai sejahtera sesama dengan menganiaya orang lain. Mereka berdusta, melakukan pemerasan, merancangkan hal yang jahat bagi orang lain. Keluhan ini juga adalah seruan kesadaran umat bahwa hal yang menghalangi mereka dari kuasa kasih dan pemulihan Tuhan adalah dosa atau kejahatannya sendiri.


Sobat Teruna, kesadaran bahwa kita mengalami penderitaan karena kesalahan yang dilakukan sendiri adalah hal yang penting. Penderitaan bukan nasib. Seringkali penderitaan itu timbul akibat dosa kita sendiri. Kesadaran diri diperlukan untuk mengerti bahwa penderitaan itu harus diakhiri dengan memohon pengampunan dan tidak lagi melakukan hal yang tidak sesuai kehendak Tuhan. Sadar, mohon ampun, dan memperbaiki diri adalah langkah yang harus kita lakukan. Dengan demikian, keluhan kita kepada Tuhan akan berbuah kebaikan yang berasal dari-Nya. (EP)




Berdoalah agar firman Tuhan hari ini bisa berakar, tumbuh dan berbuah dalam kehidupan Sobat Teruna :


Tuhan mohon ampuni aku, ketika melakukan apa yang tidak berkenan di hadapan-Mu. Tolong sadarkan aku agar mampu memohon ampunan Tuhan dan tidak hanya mengeluh pada keadaan.