TAMPIL BEDA, SIAPA TAKUT?



 

Markus 9:42-50

42 ”Barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya ini, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut. 43 Dan jika tanganmu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung dari pada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tak terpadamkan; [44 di tempat itu ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam.] 45 Dan jika kakimu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan timpang, dari pada dengan utuh kedua kakimu dicampakkan ke dalam neraka; [46 di tempat itu ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam.] 47 Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan bermata satu dari pada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka, 48 di mana ulat-ulat bangkai tidak mati dan api tidak padam. 49 Karena setiap orang akan digarami dengan api. 50 Garam memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya? Hendaklah kamu selalu mempunyai garam dalam dirimu dan selalu hidup berdamai yang seorang dengan yang lain.”

Alkitab Terjemahan Baru © Indonesian Bible Society – Lembaga Alkitab Indonesia 1974, 2018.

 


Sobat Teruna, siapa di antara kalian yang tidak tahu fungsi dari garam. Tentunya kalian sudah tahu, kan? Konon katanya garam yang dihasilnya dari laut mati, luar biasa manfaatnya. Di Indonesia produksi garam terbesar berasal dari daerah Madura di Jawa Timur. Garam sangat dibutuhkan oleh setiap orang dan setiap hari.

Sobat Teruna, kerangka/konteks teks Markus 9:42-50 adalah berbicara tentang hal mengikut Yesus. Salah satu prioritas orang percaya (pengikut Kristus) adalah memberi teladan melalui cara hidup dan pengajaran kepada anak-anaknya. Jika seorang pengikut Kristus atau seorang murid Yesus tidak rela menderita, melayani, mengasihi dan menyangkal diri dalam memberi teladan tersebut, maka ia tidak berharga atau tidak berguna sama sekali. Kita adalah laskar Kristus, sebagai laskar-Nya tentu saja dituntut seperti garam, membawa citra rasa yang baik (tidak lebih dan tidak kurang) di gereja, di rumah, di sekolah dan di tempat-tempat lainnya. Sebagai garam yang adalah pembeda, hendaknya kita selalu berkelakuan baik, menjadi contoh buat orang lain dan ikut berperan aktif untuk pengembangan jemaat di gereja, tempat kita berada. Boleh-boleh saja kita menjadi remaja yang gaul, atau tampil beda. Akan tetapi tentu ada ukurannya buat anak-anak Tuhan. Ingatlah bahwa pergaulan yang buruk bisa merusak kebiasaan yang baik.


So, mari kita pakai dan kembangkan talenta atau karunia yang telah Tuhan berikan kepada kita dengan baik untuk melayani-Nya. Bisa jadi teman-teman akan memandang diri kita sebagai remaja berkarakter baik, karena mampu mengatasi pergumulan yang ada dalam masa muda kita. Itulah letak “perbedaan kita” dengan yang lainnya. (NR)



 

Berdoalah agar firman Tuhan hari ini bisa berakar, tumbuh dan berbuah dalam kehidupan Sobat Teruna:


Masa remaja adalah masa yang indah Tuhan, tolong aku untuk dapat lebih giat lagi dalam segala hal yang baik. Jaga aku supaya dapat memelihara kebiasaan yang baik di hidupku.