top of page

TERUNA YANG MEMIMPIN.



Sumber : Wixsite stock photo

Jakarta - Tepat di hari Valentine tahun ini, 14 Februari 2024, bangsa Indonesia akan melaksanakan pesta besar. Pesta yang dimaksud tentunya bukan seperti “prom night” atau pesta perpisahan di sekolah-sekolah kita. Ini adalah pesta demokrasi, dimana rakyat Indonesia akan menggunakan haknya memilih pemimpin bangsa yang kita cintai ini. Warga negara yang berusia 17 tahun ke atas akan memberikan sumbangan suara untuk menentukan masa depan Indonesia lewat pemilihan presiden, wakil presiden, dan juga para wakil rakyat.

Berbicara mengenai pemimpin, apa yang terbersit di dalam pikiran kita ketika mendengar kata tersebut? Apakah dia adalah orang yang kuat dan berwibawa? Apakah pemimpin itu merupakan sosok yang paling cerdas di komunitas-nya? Mempunyai kemampuan berbicara di atas rata-rata? Dan memiliki wawasan serta pengetahuan yang luas? Pertanyaan lainnya adalah, apakah pemimpin harus orang yang sudah dewasa? Atau bahkan orang-orang setengah baya yang banyak makan asam garam, melalui berbagai pengalaman dan pergumulan hidup? Jawabannya tentu saja tidak. Seorang mudapun bisa menjadi pemimpin, bahkan di usia remaja seperti sobat teruna. Media mencatat ada banyak pemilik perusahaan yang merintis usahanya di usia yang sangat muda. Sebut saja William Tanuwijaya pendiri Tokopedia, Nadim Makarim penggagas perusahaan transportasi berbasis internet – Gojek, Ferry Unardi, pelopor berdirinya Traveloka, yang memudahkan kita semua untuk melakukan pemesanan ticket pesawat atau hotel secara online, dan masih banyak lagi pemimpin muda lainnya. Hal ini membuktikan bahwa generasi muda juga sangat berpotensi untuk menjadi pemimpin besar di segala bidang.

Sobat teruna tentunya juga pernah atau bahkan sedang mengambil peran sebagai seorang pemimpin saat ini. Menjadi ketua kelas, ketua osis, pemimpin regu di pramuka, ketua panitia pelaksanaan event-event tertentu baik di sekolah, lingkungan rumah atau di lingkup pelayanan gereja. Tentunya membutuhkan usaha khusus dalam rangka mengatur organisasi yang kita pimpin dengan sebaik-sebaiknya. Pengorbanan pasti dibutuhkan, entah itu korban tenaga, korban materi, korban waktu, atau mungkin korban perasaan karena harus menghadapi banyak orang dengan karakter yang sangat beragam. Kalau begitu, sebenarnya apa tolak ukur seorang itu dapat dikatakan sebagai pemimpin yang baik?

Alkitab juga mencatat di dalam kitab 2 Raja-raja pasal 22 mengenai sosok pemimpin muda yang hebat bernama Yosia . Sebagai seorang raja Yehuda, dia memang tidak setenar Saul, Daud atau Salomo, tetapi karya yang dilakukan dalam 31 tahun kepemimpinannya sangat luar biasa. Ada 3 hal yang bisa kita pelajari dari pemimpin muda ini :

1. Dia melakukan apa yang benar di mata Tuhan dan tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri meskipun Yosia baru berumur 8 tahun ketika dia diangkat  menjadi raja, (ayat 2).

2. Yosia sangat mencintai bangsanya, dia mengoyakkan pakaiannya saat mendengar perkataan Taurat yang menggambarkan nasib Yehuda ke depan (ayat 11).

3. Raja yang muda belia ini tidak memandang kekuasaan sebagai sesuatu yang harus disombongkan. Dengan sikap rendah hati dia selalu meminta petunjuk Tuhan atas apa yang akan terjadi terhadap masa depan bangsanya (ayat 13).


Sobat teruna, kuat, berwibawa, cerdas, pandai bertutur kata, berwawasan luas tentunya adalah kriteria yang penting bagi seorang pemimpin. Namun demikian ada hal yang lebih mendasar yang wajib dimiliki :


1. Takut akan Tuhan, dan terus melakukan segala sesuatunya di atas kebenaran.

2. Seorang pemimpin, harus mencintai komunitas yang dipimpinnya. Dia wajib mengutamakan kepentingan bersama di atas keinginan dan kepuasan pribadinya.

3. Pemimpin adalah sosok yang rendah hati, yang selalu sadar bahwa segala kuasa, talenta, bakat dan kemampuan yang dia miliki adalah sepenuhnya pemberian Tuhan, tidak ada alasan untuk memegahkan diri.


Sobat teruna, belajar menjadi pemimpin adalah juga modal kita untuk hidup di masa depan. Oleh karena itu asahlah keterampilan kepemimpinan kita sedari dini. Gerakan gereja ramah anak yang sedang digaungkan GPIB membuka ruang sebesar-besarnya untuk anak dan teruna meraih kesempatan ini.


Teruna yang memimpin? …. Why not? Justru kita harus menjadi teladan di usia muda kita. Seperti pesan Alkitab di dalam 2 Timotius 4 : 12


“Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.” VS


Penulis : Valentino Sopacua




 







Comments


bottom of page