top of page

“TINGGALKAN APATIS DAN ANTIPATI, MARI SIMPATI DAN EMPATI“



 

Ester 4 : 1-9


1 Setelah Mordekhai mengetahui segala yang terjadi itu, ia mengoyakkan pakaiannya, lalu memakai kain kabung dan abu, kemudian keluar berjalan di tengah-tengah kota, sambil melolong-lolong dengan nyaring dan pedih. 2 Dengan demikian datanglah ia sampai ke depan pintu gerbang istana raja, karena seorang pun tidak boleh masuk pintu gerbang istana raja dengan berpakaian kain kabung. 3 Di tiap-tiap daerah, ke mana titah dan undang-undang raja telah sampai, ada perkabungan yang besar di antara orang Yahudi disertai puasa dan ratap tangis; oleh banyak orang dibentangkan kain kabung dengan abu sebagai lapik tidurnya.

4 Ketika dayang-dayang dan sida-sida Ester memberitahukan hal itu kepadanya, maka sangatlah risau hati sang ratu, lalu dikirimkannyalah pakaian, supaya dipakaikan kepada Mordekhai dan supaya ditanggalkan kain kabungnya dari padanya, tetapi tidak diterimanya.

5 Maka Ester memanggil Hatah, salah seorang sida-sida raja yang ditetapkan baginda melayani dia, lalu memberi perintah kepadanya menanyakan Mordekhai untuk mengetahui apa artinya dan apa sebabnya hal itu. 6 Lalu keluarlah Hatah mendapatkan Mordekhai di lapangan kota yang di depan pintu gerbang istana raja, 7 dan Mordekhai menceritakan kepadanya segala yang dialaminya, serta berapa banyaknya perak yang dijanjikan oleh Haman akan ditimbang untuk perbendaharaan raja sebagai harga pembinasaan orang Yahudi. 8 Juga salinan surat undang-undang, yang dikeluarkan di Susan untuk memunahkan mereka itu, diserahkannya kepada Hatah, supaya diperlihatkan dan diberitahukan kepada Ester. Lagipula Hatah disuruh menyampaikan pesan kepada Ester, supaya pergi menghadap raja untuk memohon karunianya dan untuk membela bangsanya di hadapan baginda. 9 Lalu masuklah Hatah dan menyampaikan perkataan Mordekhai kepada Ester.



Alkitab Terjemahan Baru © Indonesian Bible Society – Lembaga Alkitab Indonesia 1974, 2018.

 


Pdt. Joas Adiprasetya melalui bukunya Menyemai Cinta, Merawat Damai, menyatakan ada empat model perasaan yaitu:

1. Apatis. Tanpa perasaan. Sekalipun sekitarnya bersedih atau senang, ia diam saja, tidak merasakan apa-apa.

2. Antipati. Kebalikan apatis yaitu ketika yang lain senang, ia malah sedih dan sebaliknya.

3. Simpati. Hati kita tidak ikut tergerak. Melakukan sesuatu hanya sebagai formalitas dalam hidup Bersama. Contohnya, ketika ingin menghadiri pesta pernikahan, kita terburu-buru datang ke rumah tetangga yang berduka seraya mengucapkan “Turut Berduka Cita!” lalu pulang, ganti baju, langsung ke pesta dan melupakan tetangga yang berduka.

4. Empati. Inilah perasaan Allah yang peduli pada manusia dan memutuskan untuk memasuki kehidupannya. IA menjadikan penderitaan manusia sebagai penderitaan-Nya sendiri. Dia terluka demi yang terluka untuk memulihkan yang terluka. contohnya Peritiwa Salib.


Mordekhai berkabung dan berdukacita karena persekongkolan jahat Haman untuk memunahkan orang Yahudi. Ketika Ester mengetahuinya, ia pun bertindak sekalipun Ester dapat saja bersikap apatis dan antipati, mengingat dirinya seorang ratu yang bergemilang harta dan kenikmatan hidup. Tetapi ia tidak melupakan jati dirinya dan setiap orang yang mendukungnya. Kesusahan yang dialami Mordekhai menjadi kesusahan dan kerisauan hatinya. Rasa simpati menjadi empati. Ester menemui Raja Ahasyweros sebagai satu-satunya jalan keluar sekalipun mempertaruhkan nyawa demi keselamatan bangsanya.


Bagaimana dengan kita? Maukah kita mengingatkan adik untuk pergi sekolah minggu, membantunya mengerjakan PR dan mendengar keluh kesahnya? Pada bulan Pelkes inipun Kita dapat melakukan perkara yang sederhana, terlihat kecil dan tidak berarti tetapi berdampak besar. Contohnya, menyisihkan dana untuk pembangunan Pelkes atau menolong sesama sebagai perwujudan sila kedua Pancasila. Mulailah peduli, jangan ditunda lagi. (ES/ejrz)



 


Berdoalah agar firman Tuhan hari ini bisa berakar, tumbuh dan berbuah dalam kehidupan Sobat Teruna:


“Ya Tuhan, ajarilah aku agar memiliki perasaan empati seperti yang Engkau miliki. Jauhkan sikap apatis dan antipati serta sempurnakan simpatiku.”


Comentarios


bottom of page