ANYPOKRITOS


Roma 12 : 9 - 15

9 Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik. 10 Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat. 11 Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan. 12 Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa! 13 Bantulah dalam kekurangan orang-orang kudus dan usahakanlah dirimu untuk selalu memberikan tumpangan! 14 Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk! 15 Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!

Alkitab Terjemahan Baru © 1974, Indonesian Bible Society – Lembaga Alkitab Indonesia



Pada pertunjukan teater Yunani-Romawi kuno, biasanya untuk berpindah dari satu peran ke peran yang lain, para pemeran menggunakan topeng. Topeng yang dipakai menjelaskan peran yang dimainkan. Perubahan peran dengan topeng itu dikenal dengan sebutan anypokritos. Dari sinilah kemudian muncul kata hipokrit untuk menyebutkan karakter orang yang munafik atau penuh kepura-puraan.



Kata anypokritos juga dipakai oleh Rasul Paulus ketika menjelaskan tentang hakikat kasih yang sejati. Ia menekankan bahwa kasih itu tidak boleh anypokritos, munafik dan berpura-pura. Apa yang tampak di luar harus sama dengan yang ada di dalam. Sebab kasih bukanlah suatu pertunjukan teater yang diperankan sementara dan pura-pura. Kasih adalah sebuah tindakan yang lahir dari hati yang tulus dan awet sifatnya. Ketulusan yang sejati berdasarkan pada kasih Kristus yang langgeng. Hal ini selaras dengan makna kata tulus. Tulus (sincere) berasal dari kata, sine (tanpa) dan cerra (lapisan lilin), yang bermakna tindakan yang berkualitas baik, awet dan tanpa lapisan apa pun yang menyelubungi untuk menutupi sesuatu yang sebenarnya buruk/ jelek.



Rasul Paulus mengingatkan bahwa mengasihi itu membuktikan kualitas diri kita. Kasih yang tulus dan tidak berpura-pura melahirkan kebaikan, menumbuhkan rasa hormat dan saling memedulikan. Dengan memiliki kasih yang seperti itu maka orang Kristen akan senantiasa bersemangat menjalani hidup. Itu bukan berarti tidak akan ada kesulitan dan tantangan. Namun demikian, orang yang memelihara kasih yang tulus dalam hidupnya akan selalu mempunyai sandaran. Ia menyandarkan diri pada kekuatan kasih Allah yang memelihara hidupnya. Ia tidak bergantung pada balas budi manusia, melainkan pada Allah yang memberkati hidupnya. Marilah kita hidup dalam kasih yang sejati.


Berdoalah agar firman Tuhan hari ini bisa berakar, tumbuh dan berbuah dalam kehidupan Sobat Teruna :

Tuhan Yesus, tolong aku dapat mengasihi dengan tulus seperti yang Engkau perbuat.

© Dewan Persekutuan Teruna
Hit Counter :
  • Black Instagram Icon
  • Black YouTube Icon